Minggu, 28 Februari 2016

TUPAI DAN PELANGI

Pelangi & Tupa


PELANGI, begitu indah ketika muncul di langit. Ada merah, kuning, hijau dan biru. Berwarna-warni. Apalagi munculnya setelah hujan di sore hari. Warnanya begitu mempesona. Setelah hujan menguyur, berganti mencari cerah di sore hari. Itulah pelangi yang ku temui di kota ku, Padang, Sumatra Barat. Kota begitu indah dan berjuta kenikmatan masakannya. Tapi pelangi yang ku temui ini berbeda. Pelanginya muncul secara tiba-tiba. Kadang pagi, siang, hingga sore pun muncul. Sama seperti mood bukan. Itulah indahnya pelangi ku. Pelangi yang selalu mewarnai hari-hari ku hingga kini. Ku ingin melihat pelangi itu kembali muncul di kala pagi, siang dan sore hari. Bawa aku terbang bersama lengkungan mu itu.....Sementara Tupai adalah binatang lucu dan jinak yang pernah ku temui. Mencari makan begitu gesit. Ketika didekati dia menghindar. Istilahnya jinak-jinak merpati. Ahh, andaikan aku jadi merpati, mungkin aku akan bersikap demikian. Tapi, aku pengkagum tupai.....
(Bilik Kecil, 13 Desember 2013)

Minggu, 14 Februari 2016

Teruslah Mengembangkan Diri dengan Belajar




DIBALIK kesuksesan seorang suami dalam jabatannya, pasti ada seorang istri nan tangguh memberikan sepenuh hati suportnya untuk kemajuan sang suami.
Hal itulah yang dilakukan Elok Damayanti terhadap suaminya, Bridgen Wahyu Indra Pramugari.

Sebagai seorang istri nomor satu di kepolisian daerah Sumatra Barat dia terus mengembangkan potensi diri dengan belajar. "Tidak ada batasan umur untuk belajar mengembangkan potensi diri yang ada," ucap Elok yang terus melanjutkan pendidikan DIII Sekretaris di Semarang setelah menikah dengan Bridgen Wahyu Indra Pramugari.

"Suami selalu memberikan suport kepada saya untuk melanjutkan pendidikan kembali. Begitu pula saya juga memberikan suport dan dukungan penuh kepada suami saya. Dengan cara saya berusaha mengembangkan potensi sendiri dengan membaca. Sebab dengan membaca kita dapat menambah wawasan kita," kata Elok baru masuk dalam organisasi setelah menyandang status nyonya Wahyu Indra Pramugari.

Baginya walaupun dia hanya sebagai seorang ibu rumah tangga dan istri dari seorang di kepolisian. Tak ada salahnya terus mengembangkan potensi diri dengan belajar. Belajar bisa didapat dari kehidupan sehari-hari ataupun melalui buku. Hal itulah yang coba diterapkan Elok terhadap ibu-ibu Bhayangkara lainnya di Sumatra Barat.

Baginya belajar tidak hanya dibangku pendidikan formal, melainkan informal.
"Saya banyak sekali menambah wawasan dari alam. Saya suka sekali dengan filosofi tanah," ucap Elok yang gemar membaca.

Dia memberikan contoh tentang filosofi tanah. Tanah merupakan sumber kehidupan manusia, tumbuhan dan hewan. Tidak ada tanah, dimana manusia dan hewan akan berpijak dan berjalan. Begitupula jika tidak ada tanah, tumbuhan seperti padi ataupun rumput yang tumbuh. Sehingga manusia dan hewan tak bakalan bisa hidup. Selain itu, filosifi tanah bisa diartikan walaupun berada dibawah dan diinjak manusia dan hewan, dia tidak pernah marah dan mengeluh.

Dengan penuh kasih sayang, memberikan penghidupan untuk manusia dan hewan. Walaupun tanah kaya dengan unsur haranya untuk menyuburkan tanaman, dia tidak pernah sombong dan angkuh. Dengan begitu, dibaliknya tersimpan kesederhanaan sehingga terpancar keindahan. Jikalau diterapkan terhadap manusia, enner beauty. Nah, Elok terus belajar dari filosofi tanah tersebut.

Apabila sudah berada diatas, jangan pernah sombong dan angkuh.
Tak hanya itu, jangan pula minder dengan segala keterbatasan sebagai ibu rumah tangga. Teruslah belajar guna memberikan motivasi terhadap suami dalam pekerjaannya. Motivasi tersebut diperoleh dengan belajar dan belajar. Walaupun kini, Elok sudah berhasil menjadi seorang istri dan ibu bagi Dhira dan Sima, yang kini duduk dibangku kuliah, ia tidak pernah menyerah untuk terus mengembangkan potensi diri.

"Jangan pernah puas, lalu berhenti untuk belajar. Teruslah menambah wawasan kita," ucap Elok selalu memberikan motivasi untuk kemajuan karir sang suami.
Jikalau, sang suami mengalami masalah dalam pekerjaan, dia adalah seorang istri yang mendengarkan curahan hati sang suami. Kemudian dia berusaha tenang. Jikalau kita panik, tentu sang suami bakalan panik dengan masalahnya.

"Jikalau suami mengalami masalah saya berusaha untuk tenang. Dengan ketenangan hati, kita dapat menyelesaikan masalah. Berdoa kepada Allah, agar dilapangan dan dimudahkan segala masalah dan urusan sang suami," ucap Elok mengakhir perbincangan dengan Singgalang. (Foto &  Narasi : Lenggogeni)

Senin, 08 Februari 2016

CERITA INDAH STANLEY HARSA, 'SEPERTI BULAN DAN MATAHARI'

     'SAYA cinta Padang, Kota yang sangat indah. Ada gunung dan laut,' Begitulah kalimat pertama sang Mantan Diplomat Amerika Serikat, Stanley Harsa ketika kembali lagi ke kota Padang. Setelah hampir empat tahun tidak ke kota ini.

    Dahulu empat tahun silam, ketika masih menjabat sebagai Konsulat Jendral Amerika Serikat untuk wilayah Sumatera, Stanley Harsa sangat sering datang ke kota Padang. Apalagi ketika gempa, 30 September 2009 lalu. Ia dengan sepenuh jiwa memberikan bantuan ke masyarakat Sumbar. "Lani bagaimana keadaannya," tanya Stanley begitu sapaan akrabnya kepada Singgalang.
      Lani Anggraini merupakan salah satu korban gempa. Kakinya terpaksa diamputasi akibat tertimpa beton Gedung Bimbingan belajar Gamma di Jalan Proklamasi. 
     Kala itu, Stanley menyempatkan diri melihat Lani di Rumah Sakit M Djamil Padang. 'Hujanan' semangat dan motivasi plus sebuah bingkisan boneka tercurahkan kepada Lani. Terbukti sampai sekarang, kisah ia dan Lani yang sudah tamat sekolah itu pun masih tersimpan dalam sanubarinya.
      "Sampai di Padang saya ingat Lani. Saya menuliskan sedikit kisah saya dan dia dalam buku karangan saya, 'Seperti Bulan dan Matahari'. Tolong diberikan buku ini. Kalau ada waktu saya kembali ke Padang dan melihat kondisinya," kata Stanley disela-sela peluncuran bukunya di Aula Bank Indonesia, Jalan Sudirman nomor 12 Padang, Kamis (28/5) lalu.
       Di tempat terpisah, Lani Anggraini, pun dengan senang hati dan gembira menerima buku yang sudah dibumbuhi tanda tangan dan kalimat motivasi dari Stanley Harsa bersama istri Henny Mangoendipoero. Tak hanya kepada Lani, Stanley juga bangga dengan kondisi kota Padang yang sudah bisa bangkit.
     "Ketika saya ke Padang dulu, Hotel Mercure, berbintang lima, tempat saya menginap belum ada, sekarang sudah ada. Hal itupun sangat menyenangkan bagi saya. Mercure adalah hotel yang indah dengan pemandangan laut, makanan besar, kamar sangat bagus dan layanan yang fantastis. Saya lihat banyak pula wisatawan asing Amerika Serikat dan Australia datang berkunjung ke Padang untuk surfing. Tentunya dengan papan selancar menuju kepulauan Mentawai dan berselancar kelas dunia. Wow, pasti perekonomian Sumbar bangkit lagi," katanya.
      Menurutnya, Kota Padang sudah banyak berobah. Kini sudah tidak ada lagi bangunan yang runtuh. Ia memberikan nasehat kepada pemerintah daerah agar memperhatikan pendidikan dan memberikan gerak atau ruang bagi penanam modal. Tak hanya itu, ia juga mengatakan orang minang sudah banyak yang rajin dan cerdas. Tapi penting ada sediakan fasilitas guru, universitas dan investasi bidang pendidikan.
         "Kunci negara maju, adalah pendidikan," tegasnya. Ia bangga kalau orang minang sudah terkenal di Indonesia, masyarakat sangat toleran, dan membela demokrasi. "Pertahankan sikap tersebut dan maju ke depan. Selalu membela demokrasi, hak manusia dantolentasi antar agama dan budaya," jelas Stanley yang sudah bekerja di Indonesia selama 12 tahun.
        Memang, Stan, sang mantan diplomat sangat perhatian terhadap Indonesia. Perhatiannya tersebut ke Indonesia dituangkannya dalam sebuah buku, menceritakan Indonesia dalam Catatan Seorang Diplomat Amerika.
     "Saya hanya membuat catatan pengalaman seorang mantan diplomat AS yang pernah bekerja di Indonesia selama 12 tahun sebagian dari 28 tahun sebagai diplomat," katanya. Cover depan buku tersebut itu menggambarkan sepasang kekasih yang tampan dan cantik. Menggambarkan kiasan idealisasi kedekatan hubungan AS dan Indonesia. "Judul buku itu, dibuat dan ditemukan bersama istrinya. Istrinya pula yang menerjemahkan, sebab naskah asli ditulisnya dalam bahasa Inggris. Beberapa hari kemudian, baru terbit dalam bahasa Inggris (naskah asli), berjudul Like the Moon and the Sun. Indonesia in the Words of an American Diplomat," ujarnya. Di dalamnya tertuang pengembaraan Stan pertemuan jiwa raganya, kemudian dipersatukan dengan mempersunting Henny Mangoendipoero, dan dikarunia dua orang anak, Annisa Harsa dan Sean Harsa.
     Sang istri berasal dari lingkungan keraton Solo, putri seorang pejabat, Padmosawego Mangoendipoero, buyut pujangga keraton Solo, Ki Padmosoesastro. Stanley sendiri berlatar belakang pendidikan dari tiga universitas yang berbeda-beda, University of Colorado, Universidad de Costa Rica dan Universidad de Mexico. Ia juga pernah bekerja sebagai wartawan di AS dan Venezuela. Bapaknya berasal dari Irlandia dan ibunya dari AS. Nama Harsha itu nama Eropa dipupuk dalam proses pendidikan serta kariernya, tanpa sadar Stanley memang menjadi 'jembatan' pemersatu berbagai kebudayaan.
       “Stanley Harsha bukan hanya seorang diplomat ulung Amerika, dia juga seorang pencinta Indonesia sejati. Pemahamannya mengenai budaya dan politik Indonesia sungguh mengagumkan. Buku ini wajib dibaca oleh setiap orang yang tertarik mempelajari hubungan Indonesia dengan Amerika," tulis Adnan Buyung Nasution, sang Pengacara Senior yang dituangkan dalam buku tersebut.
       Wartawan dan aktivis HAM, Andreas Harsono pun menuliskan kalau Amerika bukan hanya CIA, Dick Cheney, dan Perang Irak, tapi juga Stanley Harsha yang jatuh cinta pada gadis Jawa dan mengenali Indonesia, mulai dari keraton Solo sampai Gerakan Aceh Merdeka.
     “Teman saya Stanley Harsha telah menulis catatan personal mengenai perjalanannya di Indonesia sebagai seorang suami, ayah, dan diplomat. Menyentuh dan jujur, buku ini akan membantu orang Indonesia memahami orang Amerika dan hubungan kompleks antara kedua negara dengan lebih baik," tulis Direktur Regional Asia, Centre for Humanitarian Dialogue, Michael Vatikiotis.
       Sementara itu, Redaktur Senior The Jakarta Post, Endy Bayuni mengatakan, buku ini lebih dari sekadar kumpulan cerita anekdot menarik dari pengalaman pribadi dan profesional Stanley Harsha, serta cintanya yang mendalam kepada Amerika dan Indonesia. Dibaca secara menyeluruh atau sebagian, buku ini membawa pesan penting tentang cinta dan perdamaian seperti yang dialami seseorang yang menghabiskan hidup kariernya, dan sesudahnya, membangun jembatan antarbangsa di dunia.
    "Hebat. Penilaian seperti ini serta-merta menyelinap di relung hati saya setelah secara pelan-pelan dan hati-hati membaca buku Seperti Bulan dan Matahari, Indonesia dalam Catatan Seorang Diplomat Asing oleh Stanley Harsha dengan pengantar Azyumardi Azra Penerbit Buku Kompas, 2015," kata Budayawan Sumatera Barat, Darman Moenir. Nah, Anda patut membacanya. Kini sudah beredar di Toko Buku Gramedia. Ada dua bahasa, Inggris dan Bahasa Indonesia.
    Ia sengaja menuliskan Seperti Bulan dan Matahari, Indonesia dalam Catatan Seorang Diplomat Amerika, dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, supaya bisa dibaca seluruh masyarakat dunia.
     "Sengaja saya tulis dua bahasa karena tujuan saya supaya orang Amerika tahu tentang Indonesia," kata Harsha, yang memerlukan waktu satu tahun untuk menulis buku ini. "Satu pesan buku ini adalah bagaimana budaya dan adat Indonesia sangat mendalam dan penting untuk dipelajari," katanya. Sebelum menulis buku ini Harsha menjabat sebagai penasihat senior Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan Direktur Fullbright Foreign Scholarship Board. (Lenggogeni)